Saterdag 18 Januarie 2014

HIKMAH DIBALIK BANJIR


Menggali Hikmah di Balik Musibah PDF Print E-mail
Saturday, 29 December 2012 10:03
www.majalah-alkisah.com”Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, dan barang siapa beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” – QS At-Taghabun (64): 11.

Suatu waktu langit kota Madinah yang cerah tiba-tiba berubah menjadi gelap, angin bertiup kencang.
Penduduk bertanya-tanya, gerangan apa yang akan terjadi.
Sekonyong-konyong bumi bergetar, beberapa pohon bertumbangan.
Khalifah Umar bin Khaththab, yang melihat kejadian itu, dengan cepat keluar dari kediamannya. Demikian juga bebe­rapa sahabatnya yang lain.
Sesampai di jalan ia menancapkan tongkat dan berkata dengan suara yang menggelegar, ”Wahai bumi, engkau sak­­si­kanlah, apakah aku pemimpin yang tidak adil?”
Ajaib... tiba-tiba alam berubah cerah dan gempa bumi tersebut tidak lagi ber­lanjut.
Tentu kita tidak menyangsikan ke­sha­lih­an dan ketaqwaan Khalifah Umar. Dia menegur bumi yang akan mencederai rakyatnya, dan Allah SWT mengabulkan ke­inginan Khalifah Umar, sehingga ben­cana gempa bumi tidak berlanjut. Doa seorang yang sangat dikasihi dan dicintai Allah tentu berbeda dengan doa kita se­bagai manusia awam.
Apa pun kejadian yang menimpa alam semesta, termasuk manusia, se­bagai ciptaan Allah SWT, tentu tidak terlepas dari izin Allah SWT. Berbagai teori ilmu pengetahuan hanya mampu menganalisis secara tekhnis bencana yang bakal terjadi, tapi tidak bisa memas­tikan kapan terjadinya. Itulah yang kita saksikan dari bencana-bencana yang ter­jadi di dunia ini, mulai dari gempa bumi, tsunami, angin topan, meletusnya gu­nung berapi, banjir bandang, hingga yang lainnya.
Ilmu pengetahuan telah memberikan sinyal bahwa suatu daerah merupakan daerah yang potensial bencana. Misalnya patahan beberapa lempeng yang nanti­nya akan menjadi daerah rawan gempa. Begitu juga daerah rawan tsunami, dae­rah rawan meletusnya gunung berapi. Tugas manusia adalah waspada dan menjauhi daerah tersebut agar korban bisa diminimalisir, bahkan kalau bisa sam­pai pada tingkat nol.
Sunatullah di dunia fana ini tentu tidak bisa menihilkan bencana dan musibah, karena memang begitulah aturan yang ditentukan oleh Allah SWT. Tapi di balik itu tentu tugas manusia untuk berusaha se­maksimal mungkin menghindar. Sete­lah itu manusia juga bisa belajar dari apa yang sudah terjadi, mengambil ibrah, meng­gali hikmah. Karena di balik setiap musibah, insya Allah banyak hikmah yang bisa didapat.
Gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Jepang misalnya menjadi pelajaran dunia bagaimana perilaku masyarakat Jepang menghadapi alam negaranya yang memang rentan bencana. Hal itu bisa kita bandingkan dengan perilaku masyarakat Indonesia yang juga sering tertimpa bencana. Yang terakhir adalah gempa bumi dan tsunami di Mentawai lalu diikuti dengan meletusnya Gunung Me­rapi di Yogyakarta. Hikmah apa yang bisa dipetik?

Peringatan Allah SWT
Hal pertama yang harus kita yakini sebagai orang beriman, setiap kejadian, apa pun, tidak terlepas dari izin Allah SWT. Kalau kita berkca pada kisah-kisah terdahulu ketika Nabi dan Rasul masih hidup di tengah-tengah umatnya, sering terjadi bencana ditimpakan kepada suatu kaum karena ingkarnya mereka akan dakwah yang dilakukan oleh para nabi dan rasul yang hidup di tengah mereka.
Hal ini bisa kita lacak dari riwayat bencana yang menimpa umat Nabi Nuh AS, lalu kejadian yang menimpa umat Nabi Hud AS, umat Nabi Luth AS, kisah Nabi Syu’aib AS, kisah Nabi Musa AS. Intinya, bencana ditimpakan oleh Allah SWT karena pembangkangan yang dilakukan ketika diajak beriman dan mengikuti jalan lurus yang dibawa oleh setiap rasul pada setiap umatnya.
Mari kita simak kisah umat Nabi Nuh AS yang dihantam bencana banjir besar. Allah SWT menurunkan bencana banjir kepada umat Nabi Nuh karena mereka ingkar kepada Allah SWT walau Nabi Nuh tidak jemu-jemunya mengingatkan me­reka agar beriman dan patuh kepada Allah SWT Dalam surah Nuh, Allah SWT berfirman, Nuh berkata, ”Ya Tuhanku, se­sungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang. Maka seruanku itu ha­nyalah menambah mereka lari dari kebenaran. Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka kepada iman agar Engkau mengampuni mereka, me­reka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan baju­nya ke mukanya dan mereka tetap meng­ingkari dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka kepada iman de­ngan cara terang-terangan, kemudian se­sungguhnya aku menyeru mereka lagi de­ngan terang-terangan dan dengan diam-diam’.” – QS Nuh (71): 5-9.
Berbagai upaya yang dilakukan Nabi Nuh tidak bisa meluluhkan kekerasan hati umatnya. Sehingga akhirnya Allah SWT me­nurunkan adzab-Nya. Seperti yang di­firmankan oleh Allah SWT, ”Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke ne­raka, maka mereka tidak mendapatkan penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah.” – QS Nuh (71): 25.
Allah SWT memerintahkan agar Nabi Nuh dan pengikutnya membuat perahu yang sangat besar. Mereka yang beriman disuruh naik ke dalam perahu, sedangkan mereka yang ingkar mencemooh. Mereka menyangka bahwa Nabi  Nuh telah gila. Tidak ada pertanda alam apa-apa kok membuat perahu.
Kisah Nabi Nuh ini bisa juga kita baca dalam surah Al-A’raf , ”Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaum­nya lalu ia berkata, ’Wahai kaumku, sem­bahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain Dia. Sesungguhnya kalau kalian tidak menyembah Allah, aku takut kalian akan ditimpa adzab hari yang besar (Kiamat).
Pemuka-pemuka dari kaumnya ber­kata, ’Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata.’
Nuh menjawab, ’Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikit pun, melainkan aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasi­hat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kalian ketahui.
Dan apakah kalian tidak percaya dan heran bahwa datang kepada kalian pe­ringatan dari Tuhanmu dengan peran­tara­an seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu dan mudah-mudahan kalian bertaqwa dan supaya mendapat rahmat.’
Maka mereka mendustakan Nuh ke­mudian Kami selamatkan dia dari orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Se­sungguhnya mereka adalah kaum yang buta mata hatinya.” – QS Al-A’raf (7): 59-64.
Banyak kisah bencana dalam Al-Qur’an yang menimpa umat manusia ter­dahulu menjadi ibrah bagi umat manusia sekarang. Bencana yang datang, selain sebagai peringatan, juga bisa dipetik hikmahnya.

Hikmah Horizontal
Lalu bagaimana kita memaknai setiap bencana yang terjadi susul-menyusul, baik di dalam negeri maupun di negara lain. Dalam kasus gempa dan tsunami yang menimpa saudara-saudara kita di Jepang misalnya, apa yang bisa kita ambil sebagai pelajaran?
Kita bisa mengambil hikmah horizon­tal sebagai makhluk beradab yang mem­punyai akal dan kemampuan berpikir. Hik­mah itu bisa disebut hikmah horizon­tal, sebagai makhluk sesama ciptaan Tuhan dalam kerangka hubungan se­sama warga dunia.
Hasanudin Abdurakhman, seorang doktor tamatan Tokyo University, menulis dengan penuh empati ihwal hikmah di balik gempa dan tsunami yang menimpa Jepang.
Dunia terkesima dan kagum pada sikap orang Jepang menghadapi ben­cana besar saat ini. Tidak hanya pada pe­merintah dengan berbagai timnya yang sigap mengambil tindakan, tapi juga pada rakyat Jepang, yang tetap sabar, tak banyak mengeluh. Mereka tetap antre saat perbekalan dibagikan. Tidak ada penjarahan terhadap perbekalan, juga terhadap harta yang ditinggalkan oleh korban bencana.
Dunia semakin mengenal Jepang tak hanya sebagai bangsa yang maju secara teknologi dan ekonomi, tapi juga sebagai bangsa dengan budi yang sangat luhur.
”Saat masih belajar bahasa Jepang 15 tahun yang lalu, saya berdiskusi dengan seorang profesor ahli sejarah dari University of Tokyo. Saya bertanya, me­ngapa Jepang bisa bangkit dari kehan­curan Perang Dunia II, dan segera men­jadi kekuatan utama dunia.
Profesor itu menjawab, ’Karena ma­nusianya. Yang hancur oleh kekalahan perang itu hanyalah bangunan dan in­frastruktur lain. Manusianya tetap hidup’.”
Mengapa bangsa Jepang bisa seperti itu? Mengapa mereka bisa demikian istimewa? Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk kita cari jawabnya. Jawab­an itu mungkin bisa menuntun kita dalam membangun bangsa kita sendiri.
”Beberapa hari sebelum terjadi ben­cana, saya sempat berbincang dengan Prof. Sakurai, ahli sosiologi dari University of Tokyo. Dalam kesempatan itu saya mengungkapkan bahwa saya sedang menulis banyak hal tentang budaya Jepang. Di antara yang jadi perhatian saya adalah tata krama orang Jepang dalam berbisnis, misalnya dalam hal ba­gaimana mereka menepati janji, serta mementingkan pelayanan kepada kon­sumen.
Prof. Sakurai mengoreksi saya. Apa yang saya anggap sebagai budaya, menurut dia, bukanlah budaya. Budaya adalah sesuatu yang lahir dari alam dan lingkungan, sehingga terkait erat dengan dua hal itu. Misalnya pakaian, itu adalah produk budaya. Di daerah dingin orang akan memakai pakaian tebal. Pakaian itu hanya cocok untuk daerah dingin.
Tata krama bisnis, menurut Prof. Sakurai, bukan budaya, melainkan teknik. Dalam berbisnis, semua orang akan un­tung kalau bisnis dilakukan dengan jujur. Orang Jepang paham betul akan hal itu, dan mereka menguasai teknik untuk ber­laku jujur. Demikian pula halnya dengan teknik memuaskan konsumen. Karena hal itu adalah teknik, ia bisa dipelajari, dan dialihkan. Tidak hanya menjadi milik khas, seperti budaya.
Ahli budaya mungkin bisa mendebat pan­dangan tadi. Tapi saya tak hendak memperdebatkan soal itu. Tapi yang lebih penting adalah mendapat kepastian bah­wa perilaku orang Jepang itu bukan se­suatu yang secara eksklusif milik me­reka.”
Kalau kita bicara soal nilai, tak ada yang terlalu istimewa pada bangsa Jepang itu. Artinya, semua nilai yang mereka punya juga ada pada kita, dan seluruh bangsa lain di dunia. Soal ke­jujuran, misalnya, semua bangsa, semua budaya, dan semua agama menganjur­kannya. Hanya saja di masyarakat kita kejujuran hanya jadi ajaran di mimbar khutbah, ruang kelas, dan slogan-slogan. Kejujuran tidak hadir dalam amalan.
Sikap orang Jepang untuk antre saat menerima bantuan, misalnya, adalah se­buah sikap yang sangat wajar. Hanya dengan antrelah setiap orang dipastikan memperoleh bantuan. Kalau mereka ti­dak antre, ada kemungkinan mereka ti­dak kebagian, karena bantuan menjadi rusak akibat huru-hara, misalnya.
Apa yang kita lihat pada orang Jepang sebenarnya adalah hal-hal yang ber­sifat common sense belaka. Orang Je­pang menjadi istimewa karena common sense itu diamalkan menjadi praktek ke­seharian. Dalam bahasa agama, pelak­sanaan suatu nilai dalam praktek itu di­sebut beramal. Bangsa Jepang dengan demikian dapat kita sebut bangsa yang beramal.

Amanah
Faktor lain yang juga penting pada situasi bencana ini adalah kepercayaan. Para korban percaya bahwa mereka akan dibantu. Mereka percaya bahwa pemerin­tah sedang bekerja serius untuk menyele­saikan masalah. Dan yang paling penting, pemerintah tidak melakukan penyele­wengan dalam penyaluran bantuan.
Kepercayaan itulah sumber energi un­tuk kesabaran mereka. Mereka tahu bahwa bantuan akan dibagikan secara adil. Tidak ada pihak yang mendapat lebih, sedangkan yang lain mendapat kurang. Mereka juga percaya bahwa pengelolaan atas bantuan dilakukan de­ngan benar, sehingga tidak ada bantuan yang terbuang percuma karena tak ter­urus.
Semua itu juga tidak terjadi secara instan. Pemerintah, tak peduli partai apa pun yang berkuasa, telah menunjukkan kinerja positif dalam setiap kejadian ben­cana. Setiap kekurangan yang timbul dievaluasi untuk dilakukan perbaikan. Da­lam bahasa yang lebih normatif, bangsa Jepang, rakyat dan pemerintahnya, ada­lah bangsa yang amanah. Rakyat mem­percayai pemerintah, dan pemerintah mengelola amanah itu dengan baik.
Apa yang kita saksikan di Jepang saat ini adalah soal yang sederhana belaka. Masalahnya, mampukan kita berpegang teguh untuk mempraktekkan soal yang sederhana itu? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Pada rakyat dan pada pemerintah kita.

Tertib
Dunia berdecak kagum dengan men­talitas masyarakat Jepang. Di saat terjadi bencana gempa dan tsunami yang me­matikan, mereka tetap mengantre de­ngan tertib di supermarket untuk menda­patkan bahan makanan.
Tidak ada rebutan, tidak ada kerusuh­an. Rupanya tidak hanya di supermarket, suasana ketertiban di tengah bencana itu terlihat juga pada masyarakat Negeri Sakura. Ketika gempa baru saja terjadi, lalu lintas macet total. Namun, penduduk Jepang tetap bersikap tenang mengha­dapinya.
Lalu lintas di negeri ini bagai di ne­raka, sering kali hanya satu mobil yang dapat berjalan ketika lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Tapi di Jepang, semua begitu tenang dan mengemudi dengan aman dan memberikan jalan satu sama lain.
Masih di jalan raya, seorang peng­guna jalan mengatakan, ia mengemudi selama 10 jam untuk pulang ke rumah saat gempa menghentak pada Jum’at sore 11 Maret lalu. Lalu lintas sangat padat. Namun, ia tidak mendengar bunyi klakson sekali pun. “Yang terdengar hanyalah ucapan terima kasih antara satu sama lain, karena telah diberi jalan,” katanya.
Sikap tetap tertib dan tidak emosional juga terlihat di stasiun-staiun kereta api. Seperti diberitakan, ketiga gempa terjadi, jaringan KA Tokyo Metro sempat meng­hentikan operasinya dengan alasan ke­selamatan penumpang.
Banyak penumpang yang telantar di stasiun. Namun, mereka tetap menunggu dengan sabar sampai KA dapat berope­rasi kembali. Para penumpang juga se­nang dengan cara petugas KA yang tetap melayani mereka dengan senyuman.
Seorang warga Jepang yang ingin menempuh perjalanan dari Oedo menuju Hikari Gaoka mengatakan, stasiun sa­ngat penuh dengan penumpang. Sampai-sampai ada penumpang yang menunggu di luar gerbang tiket. Akan tetapi, semua tertib dan mengikuti arahan petugas stasiun.
“Kami membentuk garis sempurna. Tidak ada tali partisi. Tapi kami memberi­kan ruang untuk orang lain berjalan. Se­mua orang mengikuti petunjuk yang di­berikan oleh staf stasiun. Ketenangan ini sangat mutlak dan nyata. Saya kagum dengan kekuatan mental orang-orang ini,” ujar seorang warga.

Sadar akan Pengelolaan Risiko
Musibah gempa bumi 8,9 SR, yang lalu dikoreksi 9,0 SR, diiringi tsunami yang melanda Jepang, tidak lantas membuat warganya dilanda kepanikan dan per­gu­latan emosional yang berkepanjangan. Jepang sangatlah sadar akan rentannya negeri mereka, yang notabene pusat dari 20 persen gempa dunia dengan intensitas 6 SR setiap tahunnya, sehingga pendi­dikan akan bencana menjadi hal yang wajib untuk diajarkan oleh institusi publik, agar warganya terbiasa dengan bencana. Oleh karena itulah Jepang sadar akan pengelolaan risiko bencana dengan cara me­minimalisasi dampak sekunder dari ke­jadian bencana dalam bentuk mana­jemen bencana, dari fase mitigasi (miti­gation, peringanan) hingga rehabilitasi, yang dilakukan secara cermat.
Selain itu, dengan pengelolaan ma­najemen bencana berbasis risiko diharap­kan hasil modernisasi industri Jepang tidaklah runtuh, sebagaimana Jepang luluh lantah akibat bom atom Hiroshima dan Nagasaki. Kegiatan pengelolaan bencana yang terpadu merupakan kunci bagi negara itu untuk terus berpikir maju dalam pengembangan teknologi, khusus­nya dalam hal masalah kebencanaan.
Dalam melihat realitas itu, mana­jemen bencana yang terstruktur sangat­lah urgen dan signifikan dalam suatu ne­gara, mengingat dampak bencana yang begitu massif.
Adapun dalam kasus Indonesia, pe­merintah maupun masyarakat belum sa­dar konsep risiko bencana. Dalam benak mereka, bencana merupakan peristiwa tidak terduga, sehingga tidak memiliki pola siap siaga dalam menghadapi ben­cana.
Oleh karena itulah, ketika kita melihat pola penanggulangan bencana yang di­lakukan negara, sering kali negara masih kaget, tidak siap, dan hanya fokus pada aspek rehabilitasi maupun rekonstruksi. Padahal, bila melihat konsep teoretis ma­najemen bencana, aspek rehabilitasi dan rekonstruksi tersebut masuk ke dalam fase pasca-bencana, yang intinya me­rupa­kan fase lanjutan dari sekian rentetan manajemen bencana.

Mengubah Paradigma
Sejatinya esensi mendasar dari ma­najemen bencana sendiri adalah bagai­mana negara dan masyarakat siap dalam meng­hadapi bencana sebagai bahaya laten dan bagaimana cara memini­mali­sasi dampak bencana tersebut. Barang­kali paradigma manajemen bencana yang dibangun negara selama ini masih mengasumsikan bencana sebagai baha­ya, yakni akibat yang tidak bisa dikontrol, dan bukan melihat bencana sebagai ri­siko, yakni akibat yang bisa dikontrol. Se­ring kali pemerintah dan masyarakat se­lama ini bersikap pasrah, dan baru reaktif jika bencana sudah menapaki penurunan intensitas.
Mereka tidak sadar bahwa bencana me­miliki dampak sistemik terhadap ke­hidupan, seperti halnya infrastruktur mau­pun manufaktur yang rusak parah, yang mengakibatkan roda perekonomian, se­ba­gai mesin kebangkitan nasional, men­jadi lesu dan modernisasi pembangunan menjadi terhambat, sehingga terancam kembali ke peradaban awal.
Maka, paradigma manajemen berba­sis masyarakat risiko, seperti halnya di negara maju, dapat menjadi acuan dalam memodernisasi manajemen bencana ne­gara kita.
Kini manusia modern memasuki ba­bak baru dalam modernitas lanjut. Yaitu, formasi sosial yang terbentuk mengalami transformasi menuju formasi sosial masya­rakat risiko (Hasrul Hanif, 2007). Masyarakat risiko adalah masyarakat yang seluruh sendi kehidupannya diba­ngun di atas kesadaran akan risiko.
Tentu saja hal ini bukan berarti kehi­dupan mereka semuanya berisiko dan ti­dak hanya berpikir pendek tentang ben­cana. Akan tetapi, kesadaran akan risiko dan bagaimana merespons risiko ben­cana telah mempengaruhi seluruh proses sosial dalam masyarakat risiko.
Modernitas kemudian muncul dengan paradigma rasionalitas yang tinggi, peng­gugatan terhadap mitologi tradisional, dan hasrat penundukan bencana. Ben­cara sebagai sesuatu hal yang ada di luar diri manusia mesti ditundukkan. Oleh ka­rena itulah, modernisasi teknologi infra­struktur yang ada adalah untuk memas­tikan bahwa bencana tidak memberikan kerentanan terhadap kejadian di masa depan.
Esensi modernitas dalam manajemen bencana adalah mengajak semua orang untuk berpikir futuristis terhadap bencana yang terjadi sekarang ini, apakah memiliki dampak lebih dahsyat di masa depan. Untuk itulah peningkatan kapasitas ma­syarakat dan negara sebagai kesatuan aktor dalam manajemen bencana melalui pendidikan kebencanaan sedini mungkin, pelatihan simulasi, dan tanggap darurat bencana, maupun investasi besar dalam sistem peringatan dini maupun infra­struk­tur pendukung, merupakan sesuatu yang tak  terelakkan, agar bencana ini tidak memberi efek lanjutan pada kehidupan, baik yang terjadi sekarang maupun di masa depan.
Dalam kasus Indonesia, pada peme­rintah maupun masyarakat belum terlihat aplikasi modernitas dalam manajemen ben­cana yang ada. Sebagai contoh, da­lam kurun waktu empat tahun terakhir se­menjak diundangkannya UU No. 24 Tahun 2007, investasi teknologi dalam infrastruktur bencana dapat dikatakan sangatlah minim, tanpa dukungan ang­gar­an memadai, hanya 0,5 persen dari porsi APBN/APBD. Kecilnya anggaran ter­sebut tidak mencerminkan bahwa ne­gara waspada akan bencana di masa mendatang dan hanya berpikir pragmatis terhadap kejadian bencana yang terjadi selama ini.
Selain itu, masyarakat juga masih mempunyai sikap hanya siap siaga jika ben­cana itu benar-benar datang dalam ke­hidupan mereka. Masyarakat masih terbalut tradisionalisme yang mengasum­sikan bahwa manusia adalah subordinat alam.
Kita juga perlu berpikir rasional bahwa tidak selamanya bencana itu merupakan ke­tidakpatuhan manusia atas hukum alam, namun alam mengajarkan kepada manusia bahwa alam semesta senan­tiasa bergerak dinamis menuju titik ke­seimbangan sebagaimana yang diajar­kan dalam ilmu pasti. Bencana dapat di­lihat sebagai peringatan dini bagi manusia untuk bersama dengan alam menuju titik ke­seimbangan tersebut.
Negara perlu melihat bahwa bencana merupakan sesuatu yang tak terelakkan dalam kehidupan kita. Cara berpikir mo­dern perlu diterapkan dalam manajemen bencana, sehingga tak perlu risau dalam melihat bencana sebagai sesuatu yang ne­gatif. Bencana adalah sesuatu yang harus dihadapi dalam modernisasi zaman.
Begitulah alam semesta dengan se­genap perilakunya, yang tentu tidak ter­lepas dari aturan Sang Sutradara Agung, Allah SWT. Tugas manusia adalah  meng­­gali hikmah di balik setiap pe­ristiwa, kejadian, bencana, dan musibah yang ter­jadi, sambil terus-menerus memperbaiki diri agar selaras dengan jalan lurus-Nya.

Lokasi Banjir di Bekasi Jawa Barat

Sabtu, 18 Januari 2014 08:46 WIB
Lokasi Banjir di Bekasi Jawa Barat
TRIBUNNEWS.COM/THERESIA FELISIANI
Foto banjir di Perumahan Graha Indah Bekasi 
TRIBUNNEWS.COM, BEKASI - Berbagai kompleks perumahan yang berada di daerah Bekasi, Jawa Barat, turut terendam banjir pada Sabtu (18/1/2014) dini hari.
Hujan yang turun deras, membuat perumahan di sana terendam air dengan ketinggian ada yang mencapai 100 cm atau 1 meter.
Foto berbagai kondisi kompleks perumahan yang direndam air itu dilaporkan sejumlah orang di jejaring sosial Twitter. Berikut beberapa rangkuman, berdasarkan laporan TMC Polda Metro Jaya, melalui akun twitter @TMCPoldaMetro, Sabtu mulai pukul 01.00:
- Kondisi banjir Perumahan Bintang Metropol, Bekasi -Banjir 30-40 cm di dalam rumah & di luar rumah 60 cm di Kartika Cibitung Kabupaten Bekasi
-Banjir di Perumahan Dania Bekasi Timur
-Banjir 80-100 cm di Perumahan Masnaga, Bintara, Bekasi
-Banjir 50-60 cm di Perumahan Taman Narogong Indah Bekasi Timur
-Banjir 50 cm di Perumahan Griya Asri 1 Tambun Bekasi
-Banjir 50 cm di Perumahan Harapan Baru Regency Bekasi
-Banjir 60-80 cm di Perumahan Mangun Jaya 2 Tambun Bekasi
Pantauan Kompas.com, banjir juga mulai melanda perumahan Griya Bintara Indah. Sejak sekitar pukul 00.00, air telah menggenangi setinggi sekitar 75. Sebagian rumah tergenang air selututu kaki.
Menurut salah satu warga yang juga wartawan Kompas, Marcus Suprihadi, penghuni kompleks telah memindahkan mobilnya ke tempat aman yang lebih tinggi untuk mengantisipasi kenaikan air.
Laporan lainnya, banjir juga sudah melanda perumahan Duta Kranji akibat luapan Kali Baru.

Vrydag 17 Januarie 2014

Manfaat membaca al-qur'an secara ilmiah

Manfaat Membaca Al-Qur'an Terbukti Secara Ilmiah

Dan kami menurunkan Al Qur’an sebagai penawar dan Rahmat untuk orang-orang yang mu’min.”
(QS. Al Israa'17: 82)
Dr. Al Qadhi, melalui penelitiannya yang panjang dan serius di Klinik Besar Florida Amerika Serikat, berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Alquran, seorang Muslim, baik mereka yang berbahasa Arab maupun bukan, dapat merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar.

Penurunan depresi, kesedihan, memperoleh ketenangan jiwa, menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yang dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya. Penemuan sang dokter ahli jiwa ini tidak serampangan.

Penelitiannya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik. Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan, bacaan Alquran berpengaruh besar hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit.

Penelitian Dr. Al Qadhi ini diperkuat pula oleh penelitian lainnya yang dilakukan oleh dokter yang berbeda. Dalam laporan sebuah penelitian yang disampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984, disebutkan, Al-Quran terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang mendengarkannya.
Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston. Objek penelitiannya terhadap 5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. Kelima orang tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Arab dan mereka pun tidak diberi tahu bahwa yang akan diperdengarkannya adalah Al-Qur’an.
Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi, yakni membacakan Al-Qur’an dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur’an. Kesimpulannya, responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan Al-Qur’an dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur’an.
Al-Qur’an memberikan pengaruh besar jika diperdengarkan kepada bayi. Hal tersebut diungkapkan Dr. Nurhayati dari Malaysia dalam Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam di Malaysia pada tahun 1997. Menurut penelitiannya, bayi yang berusia 48 jam yang kepadanya diperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an dari tape recorder menunjukkan respons tersenyum dan menjadi lebih tenang.

Al-Qur'an Sebagai Penyembuh

 

Ada banyak penyakit setiap hari yang sembuh dengan membaca Al-Quran. Kita tidak dapat membantah hal itu karena kesembuhan memang terjadi. Hal itu terjadi pada saya (Abduldaem Al-Kaheel – penyusun artikel) ketika saya membaca ayat-ayat tertentu untuk khusus penyakit dan penyakit itu sembuh!  (atas izin Allah).

Penyembuhan dengan Al-Quran adalah isu yang kritis yang tidak banyak ada studi atau penelitian tentangnya, jadi saya rasa untuk memulai perjalanan ini dan memohon kepada Allah untuk membimbing saya, memberikan saya ilmu yang bermanfaat, menunjukkan kepada saya kebenaran dan menolong saya untuk melakukannya, dan menunjukkan kepada saya kesalahan dan menolong saya untuk menjauhinya. Salah satu buah terpenting dari penelitian ini, yang berlangsung selama bertahun-tahun, yaitu bahwa saya datang dengan hasil yang penting: Allah telah menempatkan dalam setiap ayat Al-Quran sebuah kekuatan penyembuhan untuk penyakit tertentu jika ayat ini dibaca dalam jumlah tertentu berkali-kali.

Permulaan
Ketika kita merenungkan alam semesta di sekeliling kita, kita melihat bahwa setiap atom bergetar dalam frekuensi tertentu, apakah atom ini bagian dari logam, air, sel atau apapun. Sehingga setiap benda di dalam alam semesta ini bergetar, hal ini memberikan fakta ilmiah.

Struktur dasar alam semesta ini adalah atom, dan struktur dasar tubuh kita adalah sel; setiap sel terbuat dari milyaran atom dan setiap atom terbuat dari nukleus positif dan elektron negatif yang berotasi di sekitarnya; karena rotasi ini sebuah medan elektromagnetik dihasilkan serupa dengan medan-medan yang dihasilkan oleh sebuah mesin.

Gambar 1: Atom adalah struktur dasar di dalam alam semesta ini dan di dalam tubuh kita; ini terus-menerus bergetar, yang artinya setiap benda bergetar sesuai degan sebuah sistem yang teliti.

Rahasia yang membuat otak kita berpikir adalah sebuah program akurat yang ada dalam sel-sel otak; program yang berada di dalam setiap sel ini mengerjakan tugasnya dengan teliti; kerusakan sekecil apapun dalam pekerjaannya akan menyebabkan ketidakseimbangan dan penyakit di beberapa bagian tubuh; pengobatan terbaik untuk ketidakseimbangan ini adalah dengan mengembalikan keseimbangan pada tubuh. Para ilmuwan menemukan bahwa sel-sel tubuh dipengaruhi oleh berbagai getaran seperti gelombang cahaya, gelombang radio, gelombang suara, dll. Tetapi apa itu suara?

Gambar 2: Setiap sel di dalam tubuh kita bergetar di dalam sebuah sistem yang seksama, dan perubahan sekecil apapun dalam getaran ini bisa menimbulkan penyakit pada beberapa bagian tubuh. Itulah mengapa sel-sel yang rusak harus digetarkan untuk mengembalikan keseimbangannya.

Kita tahu bahwa suara terbuat dari gelombang atau getaran yang bergerak di udara pada sekitar 340m/detik. Setiap suara memiliki frekuensinya sendiri, dan manusia bisa mendengar dari frekuensi 20 per detik hingga frekuensi 20000 per detik.

Gelombang-gelombang ini menyebar di udara dan kemudian ditangkap oleh telinga, kemudian berubah menjadi sinyal elektrik dan bergerak melalui saraf suara menuju kulit accoustic bark pada otak; sel-sel terkait dengan gelombang-gelombang tersebut dan bergerak ke dalam berbagai bagian otak, terutama di bagian depan; semua bagian ini bekerja sama sesuai dengan sinyal-sinyal tersebut dan menerjemahkan mereka ke dalam bahasa yang dipahami oleh manusia. Dengan demikian, otak menganalisa sinyal-sinyal tersebut dan memberikan perintah-perintahnya ke berbagai bagian tubuh untuk terhubung dengan sinyal-sinyal itu.

Gambar 3: Suara terdiri dari getaran mekanik yang mencapai telinga kemudian sel-sel otak yang terhubung dengan getaran-getaran itu dan mengubah getaran-getarannya sendiri; itulah mengapa suara dianggap sebuah kekuatan penyembuhan yang efektif, tergantung pada sifat suara dan frekuensinya. Kita temukan kekuatan penyembuhan itu di dalam Al-Quran karena ini adalah kitab Allah.

Dari sini muncul terapi suara; suara tersebut adalah sebuah getaran, sel-sel tubuh bergetar, kemudian suara tersebut mempengaruhi sel-sel tubuh. Ini adalah hal yang ditemukan oleh para pengamat baru-baru ini.

Di universitas Washington pada abad dua puluh satu belakangan ini, para ilmuwan menemukan bahwa tugas sebuah sel otak tidak hanya mentransfer informasi, setiap sel adalah sebuah komputer kecil yang bekerja mengumpulkan informasi, memprosesnya, dan memberikan perintah terus-menerus siang-malam 24 jam.

Ellen Covey, seorang peneliti di Washington University, mengatakan bawa ini adalah pertama kalinya kita menyadarai bahwa otak tidak bekerja sebagai komputer yang besar, tetapi otak berisi sejumlah besar komputer yang bekerja dengan cara kooperatif, ada sebuah komputer kecil dalam setiap sel, dan ada komputer-komputer yang dipengaruhi oleh getaran di sekitarnya, terutama suara.

Gambar 4: Eksperimen (percobaan) menunjukkan bahwa di dalam setiap sel di dalam otak ada sebuah komputer yang Allah tanamkan padanya sebuah program akurat yang mengarahkan sel dan mengontrol kerjanya. Itu juga menunjukkan bahwa suara mempengaruhi sel tersebut; gambar di atas adalah gambar sel yang terkena pengaruh oleh sebuah suara dan medan elektromagetik yang terbentuk di sekitarnya.

Dengan begitu, kita bisa mengatakan bahwa sel-sel di setiap bagian tubuh bergetar dalam frekuensi tertetu, dan membentuk sebuah sistem yang rumit dan terkoordinasi yang terpengaruh oleh setiap suara di sekitarnya. Sehingga, setiap penyakit yang melanda semua bagian tubuh akan menyebabkan sebuah perubahan dalam getaran pada bagian sel ini dan oleh karena itu menyebabkannya menyimpang dari sistem tubuh yang umum yang mempegaruhi seluruh tubuh. Inilah mengapa, ketika tubuh ini terkena suara tertentu, suara ini mempengaruhi sistem getaran tubuh dan terutama pada bagian yang tidak beraturan; bagian ini akan merespon suara tertentu untuk mengembalikan sistem getaran asli, atau dengan kata lain untuk mengembalikan kondisi kesehatannya. Para ilmuwan menemukan hasil ini belum lama ini. Bagaimana kisah ilmiah ilmu pengetahuan (terapi suara) ini?
Cerita tentang terapi suara 
Alfred Tomatis, seorang dokter Perancis, membuat eksperimen selama lima puluh tahun mengenai indera manusia dan muncul dengan hasil bahwa indera pendengaran adalah indera yang paling penting! Dia menemukan bahwa telinga mengontrol seluruh tubuh, mengatur operasi-operasi vitalnya dan keseimbangan serta koordinasi gerakan-gerakannya ia juga menemukan bahwa telinga mengontrol susunan saraf!

Selama eskperimennya, ia menemukan bahwa saraf pendengaran terhubung dengan seluruh otot tubuh dan ini adalah alasan mengapa keseimbangan dan fleksibilitas tubuh serta indera penglihatan itu terpengaruh oleh suara. Telinga dalam terhubung dengan seluruh bagian tubuh seperti jantung, paru-paru, hati, perut dan usus; hal ini menjelaskan mengapa frekuensi suara mempengaruhi seluruh tubuh.

Pada 1960, ilmuwan Swiss Hans Jenny menemukan bahwa suara mempengaruhi berbagai material dan memperbarui partikular-partikularnya, dan bahwa setiap sel tubuh memiliki suaranya sendiri dan akan terpengaruh oleh pembaruan suara serta material di dalamnya. Pada 1974, para peneliti Fabien Maman dan Sternheimer mengumumkan penemuan yang sangat mengejutkan; Mereka menemukan bahwa setiap bagian dari tubuh memiliki sistem getaran sendiri, sesuai dengan hukum fisika. Beberapa tahun kemudian, Fabien dan Grimal, peneliti lainnya, menemukan bahwa suara mempengaruhi sel-sel terutama sel-sel kanker, dan bahwa suara-suara tertentu memiliki pengaruh yag kuat; hal yang ajaib yang ditemukan oleh kedua peneliti tersebut adalah suara yang memiliki efek yang paling kuat terhadap sel-sel tubuh adalah suara manusia itu sendiri!!

Gambar 5: Suara bergerak dari telinga ke otak dan mempengaruhi sel-sel otak; para ilmuwan baru-baru ini menemukan bahwa suara memiliki kekuatan penyembuh yang ajaib dan efek yang menakjubkan dari sel-sel otak yang mengembalikan keseimbangan ke seluruh tubuh! Membaca Al-Quran memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap sel-sel otak dan mampu mengembalikan keseimbangannya; otak adalah organ yang mengontrol tubuh dan dari sini perintah-perintah dikirim kepada seluruh organ tubuh terutama sistem kekebalan tubuh.

Fabien, seorang ilmuwan sekaligus musisi, menempatkan sel-sel dari tubuh yang sehat dan mengenakannya kepada berbagai suara; Dia menemukan bahwa setiap not skala musik mempengaruhi medan elektromagnetik dari sel tersebut; ketika memotret sel ini dengan kamera Kirlian, ia menemukan bahwa bentuk dan nilai medan elektormagnetik dari sel itu berubah sesuai frekuensi suara dan tipe suara pembaca.

Kemudian ia melakukan eksperimen lainnya dengan mengambil setetes darah dari salah satu pasein; dan kemudian memonitor tetesan darah tersebut dengan kamera Kirlian dan meminta pasien itu untuk mengeluarkan berbagai nada. Dia menemukan, setelah memproses gambarnya, bahwa nada tertentu dalam tetesan darah itu mengubah medan elektromagnetiknya dan sepenuhnya bergetar merespon pemiliknya. Dia kemudian menyimpulkan bahwa ada nada-nada tertentu yang mempengaruhi sel-sel tubuh dan membuatnya lebih vital dan aktif, bahkan memperbaharuinya. Dia muncul dengan hasil yang penting bahwa suara manusia memiliki pengaruh kuat dan unik terhadap sel-sel tubuh; pengaruh ini tidak ditemukan pada instrumen lainnya. Peneliti ini mengatakan secara harfiah:

“Suara manusia memiliki dering khusus yang membuatnya menjadi alat pengobatan yang paling kuat. Fabien menemukan bahwa beberapa suara dengan mudah menghancurkan sel kanker, dan pada saat yang sama mengaktifkan sel sehat. Suara mempengaruhi sel darah manusia yang mentransfer frekuensi suara ini ke seluruh tubuh melalui peredaran darah.”

Gambar 6: Sebuah sel kanker hancur dengan menggunakan frekuensi suara saja!! Itulah mengapa membaca Al-Quran memiliki dampak hebat dalam perawatan kanker paling berbahaya sekalipun dan penyakit-penyakit yang menurut medis tidak dapat disembuhkan!

Tetapi apakah pengaruh ini terbatas hanya untuk sel-sel tubuh? Jelaslah bahwa suara mempengaruhi apapun di sekitar kita. Inilah yang Masaru Emoto, seorang ilmuwan Jepang, buktikan dalam eksperimennya terhadap air; Dia menemukan bahwa medan elektromagnetik pada molekul-molekul air sangat terpengaruh oleh suara, dan bahwa ada nada-nada tertentu yang berpengaruh pada molekul-molekul ini dan membuatnya menjadi lebih teratur. Jika kita mengingat bahwa tubuh manusia 70 persennya terdiri dari air, maka suara yang manusia dengar mempengaruhi keteraturan pada molekul-molekul air di dalam sel-sel dan dengan cara ini molekul-molekul itu bergetar.

Gambar 7: Bentuk molekul-molekul air berubah ketika terkena suara; dengan demikian, suara sangat mempengaruhi air yang kita minum. Jika kita membacakan ayat-ayat Al-Quran pada air, sifat-sifatnya akan berubah dan akan membawa pengaruh ayat-ayat Al-Quran ke setiap sel di dalam tubuh, menyebabkannya dapat menyembuhkan! (insya Allah). Pada gambar di atas, kita melihat sebuah molekul air yang beku; medan elektromagnetik di sekitar molekul ini berubah secara kontinyu akibat efek suara.
Bagaimana ayat-ayat Al-Quran bisa menyembuhkan? 
Sekarang, mari menanyakan pertanyaan penting: apa yang terjadi di dalam sel-sel tubuh dan bagaimana suara menyembuhkan? Bagaimana suara ini mempengaruhi sel-sel yang rusak dan mengembalikan keseimbangannya? Dengan kata lain, bagaimana mekanisme penyembuhannya?

Para dokter terus mencari cara untuk menghancurkan beberapa virus; jika kita memikirkan tentang mekanisme virus ini, apa yang membuatnya bergerak dan menemukan jalannya kepada sel? Siapa yang memberikan virus itu informasi yang tersimpan di dalam, yang memungkinkannya untuk menyerang sel-sel dan berkembang biak di dalamnya? Apa yang menggerakkan sel-sel itu melawan virus ini untuk menghancurkannya sementara berdiri tak berdaya di depan virus lainnya?

Gambar 8: Virus dan kuman juga bergetar dan sangat terpengaruh oleh getaran suara terutama suara lantunan ayat-ayat Al-Quran, suara ini menghentikan virus dan kuman dan pada saat yang sama meningkatkan aktifitas sel-sel sehat dan membangkitkan program yang terganggu yang berada di dalam untuk menjadi siap melawan virus dan kuman.

Lantunan ayat suci Al-Quran menciptakan sekelompok frekuensi yang mencapai telinga kemudian bergerak ke sel-sel otak dan mempengaruhinya melalui medan-medan elektromagnetik frekuensi ini yang dihasilkan dalam sel-sel ini. Sel-sel itu akan merespon medan-medan tersebut dan memodifikasi getaran-getarannya, perubahan pada getaran ini adalah apa yang kita rasakan dan pahami setelah mengalami dan mengulang.

Ini adalah sistem alami yang Allah ciptakan pada sel-sel otak, ini adalah sistem keseimbangan alami; ini adalah apa yang Allah firmankan kepada kita di dalam Kitab Suci Al-Quran:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama [Allah]; [tetaplah atas] fithrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fithrah itu. Tidak ada perubahan pada fithrah Allah. [Itulah] agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.(Ar-Rum: 30)

Gambar 9: Gambar disamping adalah gambaran nyata sebuah sel darah yang terkena suara dan mulai mengubah medan elektromagnetik di sekitarnya; suara lantutan ayat suci Al-Quran mengubah informasi sel ini, membawa dan membuatnya lebih mampu melawan virus dan kerusakan yang diakibatkan oleh penyakit-penyakit ganas.

Ayat-ayat mana yang dapat menjadi terapi penyembuhan?
Setiap ayat Al-Quran memiliki kekuatan penyembuh yang luar biasa (atas izin Allah) untuk penyakit-penyakit tertentu; di antara surat yang biasanya dilantunkan untuk meruqyah adalah Al-Fatiha, ayat Kursi (ayat ke-255 di surat Al-Baqarah), dua ayat terakhir surat Al-Baqarah (285-286), dan tiga surat terakhir dalam Al-Quran (Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas) sebagaimana yang diberitahukan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Tetapi, pada dasarnya semua ayat Al-Quran dapat menjadi terapi penyembuhan dan pencegahan dari berbagai penyakit, insya Allah.

Nabi paling mulia shalallahu ‘alaihi wa sallam setiap hari membiasakan diri membaca ayat-ayat dan doa serta dzikir lainnya –selain mengkonsumsi makanan dan minuman alami yang sehat dengan adab-adab makan yang sehat- untuk perlindungan dari berbagai penyakit, baik fisik maupun psikis. Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam berdoa kepada Allah untuk melindunginya dari gangguan setan, termasuk dari berbagai penyakit.

Pengobatan dengan ayat-ayat Al-Quran dan Sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam terbukti secara medis dapat menyembuhkan dari berbagai penyakit, apakah itu penyakit psikologis ataupun penyakit fisik (rohani ataupun jasmani), insya Allah.

Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian.” (Al-Isra’: 82)
Sumber: kaskus dan arrahmah

Maandag 30 Desember 2013

PENGERTIAN INTERNET

Pengertian Internet dan Sejarah Internet – Menurut tata bahasa internet berasal dari bahasa yunani “inter” yang berarti “antara”. Sementara itu menurut situs Wikipedia internet merupakan singkatan dari interconnection-networking yang merupakan sistem jaringan yang menghubungkan tiap-tiap komputer secara global di seluruh penjuru dunia. Koneksi yang menghubungkan masing masing komputer tersebut memiliki standar yang digunakan yang disebut Internet Protocol Suite disingkat TCP/IP. Komputer yang terhubung ke internet akan memiliki kemampuan melakukan pertukaran data dengan sangat cepat.
pengertian internet Pengertian Internet dan Sejarah Internet

Sejarah Internet

1969 – Cikal bakal internet pertamakali dprakarsai sebuah proyek ARPA yang juga dikenal sebagai ARPANET (Advanced Research Project Agency Network) di Amerika Serikat pada tahun 1969. Proyek tersebut menunjukan bahwa dengan memanfaatkan sitem dan software berbasis UNIX komunikasi bisa dilakukan tanpa batas jarak melalui jaringan telpon. Seiring perkembangan proyek tersebut munculah cikal bakal TCP/IP yang kita gunnakan saat ini. Perkembangan rancangan pun semakin mengarah ke arah positif, internet yang sebelumnya dirancang untuk kebutuhan militer lama kelamaan pun mulai dikembangan untuk keperluan pendidikan dan umum.
1972 – Roy Tomlinson akhirnya berhasil menyempurnakan sebuah program e-mail yang dirancang untuk ARPANET. Karena kemudahanya, program e-mail pun langsung populer di masa itu. Disusl juga kemunculan icon @ yang mewakili lambang penting sebagai indikasi “at” atau “pada”.
1973 – Di tahun ini, perkembangan jaringan ARPANET mulai dikembangkan di luar Amerika Serikat. Komputer pertama yang menjadi anggota dan menggunakan jaringan ARPANET adalah komputer University College di London. Tak lama kemudian dua hali komputer Vinton Cerf dan Bob Kahn mepresentasikan gagasan internet yang lebih besar di Universitas Sussex yang akhirnya menjadi cikal bakal berkembangnya Internet seperti sekarang ini.
1976 – Tepatnya tanggal 26 Maret menjadi hari bersejarah dalam perkembangan internet ketika Ratu Inggris berhasil mengirimkan e-mail dari Royal Signals and Radar Establishment di Malvern. Perkembangan internet pun semakin cepat, dalam kurun waktu 1 tahun setelah itu telah ada lebih dari 100 komputer yang bergabung dan menggunakan jaringanARPANET sehingga terbentuklah jaringan network.
1979 – Tom Truscott, Jim Ellis dan Steve Bellovin berhasil mencipatakan newsgroup pertama dengan nama USENET.
1981 – France Telecom membuat sebuah gebrakan di dunia teknologi saat itu dengan meluncurkan telepon televisi pertama yang memberikan kemudahan orang-orang untuk bisa saling menelepon sambil berhubungan dengan video link.
1990 – Adalah tahun bersejarah dimana muncul program editor dan browser yang ditemukan oleh Tim Berners Lee.  Program tersebut memberikan kemampuan bagi pengguna untuk menjelajah jaringan komputer yang terhubung. Nah, program tersebut yang akhirnya diberi nama www atau Worl Wide Web seperti sekarang ini.
1992 – Meningkatnya komputer tersambung dan membentuk jaringan di tahun itu mecapai sejuta komputer. Sehingga pada thun tersebut muncul istilah keren yaitu surfing the internet.
1994 – Di tahun tersebut situs internet sudah berkembang dan tumbuh menjadi 3000 alamat halaman. Di tahun itu pula muncul virtual-shopping atau e-retail di dunia internet. Bukan itu saja, 1994 juga lahirnya situs Yahoo! yang melahirkan Netscape Navigator 1.0. Dimana memungkinkan komputer berinteraksi dengan pengguna komputer lainya secara global seperti yang kita gunakan seperti sekarang ini.
Demikian pengertian  internet dan sejarah internet dari masa-kemasa hingga sekarang ini. Namun perkembangan internet masih terus berkembang dan kita tunggu saja trobosan apa lagi yang akan hadir di masa yang akan datang.