Saterdag 18 Januarie 2014

HIKMAH DIBALIK BANJIR


Menggali Hikmah di Balik Musibah PDF Print E-mail
Saturday, 29 December 2012 10:03
www.majalah-alkisah.com”Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, dan barang siapa beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” – QS At-Taghabun (64): 11.

Suatu waktu langit kota Madinah yang cerah tiba-tiba berubah menjadi gelap, angin bertiup kencang.
Penduduk bertanya-tanya, gerangan apa yang akan terjadi.
Sekonyong-konyong bumi bergetar, beberapa pohon bertumbangan.
Khalifah Umar bin Khaththab, yang melihat kejadian itu, dengan cepat keluar dari kediamannya. Demikian juga bebe­rapa sahabatnya yang lain.
Sesampai di jalan ia menancapkan tongkat dan berkata dengan suara yang menggelegar, ”Wahai bumi, engkau sak­­si­kanlah, apakah aku pemimpin yang tidak adil?”
Ajaib... tiba-tiba alam berubah cerah dan gempa bumi tersebut tidak lagi ber­lanjut.
Tentu kita tidak menyangsikan ke­sha­lih­an dan ketaqwaan Khalifah Umar. Dia menegur bumi yang akan mencederai rakyatnya, dan Allah SWT mengabulkan ke­inginan Khalifah Umar, sehingga ben­cana gempa bumi tidak berlanjut. Doa seorang yang sangat dikasihi dan dicintai Allah tentu berbeda dengan doa kita se­bagai manusia awam.
Apa pun kejadian yang menimpa alam semesta, termasuk manusia, se­bagai ciptaan Allah SWT, tentu tidak terlepas dari izin Allah SWT. Berbagai teori ilmu pengetahuan hanya mampu menganalisis secara tekhnis bencana yang bakal terjadi, tapi tidak bisa memas­tikan kapan terjadinya. Itulah yang kita saksikan dari bencana-bencana yang ter­jadi di dunia ini, mulai dari gempa bumi, tsunami, angin topan, meletusnya gu­nung berapi, banjir bandang, hingga yang lainnya.
Ilmu pengetahuan telah memberikan sinyal bahwa suatu daerah merupakan daerah yang potensial bencana. Misalnya patahan beberapa lempeng yang nanti­nya akan menjadi daerah rawan gempa. Begitu juga daerah rawan tsunami, dae­rah rawan meletusnya gunung berapi. Tugas manusia adalah waspada dan menjauhi daerah tersebut agar korban bisa diminimalisir, bahkan kalau bisa sam­pai pada tingkat nol.
Sunatullah di dunia fana ini tentu tidak bisa menihilkan bencana dan musibah, karena memang begitulah aturan yang ditentukan oleh Allah SWT. Tapi di balik itu tentu tugas manusia untuk berusaha se­maksimal mungkin menghindar. Sete­lah itu manusia juga bisa belajar dari apa yang sudah terjadi, mengambil ibrah, meng­gali hikmah. Karena di balik setiap musibah, insya Allah banyak hikmah yang bisa didapat.
Gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Jepang misalnya menjadi pelajaran dunia bagaimana perilaku masyarakat Jepang menghadapi alam negaranya yang memang rentan bencana. Hal itu bisa kita bandingkan dengan perilaku masyarakat Indonesia yang juga sering tertimpa bencana. Yang terakhir adalah gempa bumi dan tsunami di Mentawai lalu diikuti dengan meletusnya Gunung Me­rapi di Yogyakarta. Hikmah apa yang bisa dipetik?

Peringatan Allah SWT
Hal pertama yang harus kita yakini sebagai orang beriman, setiap kejadian, apa pun, tidak terlepas dari izin Allah SWT. Kalau kita berkca pada kisah-kisah terdahulu ketika Nabi dan Rasul masih hidup di tengah-tengah umatnya, sering terjadi bencana ditimpakan kepada suatu kaum karena ingkarnya mereka akan dakwah yang dilakukan oleh para nabi dan rasul yang hidup di tengah mereka.
Hal ini bisa kita lacak dari riwayat bencana yang menimpa umat Nabi Nuh AS, lalu kejadian yang menimpa umat Nabi Hud AS, umat Nabi Luth AS, kisah Nabi Syu’aib AS, kisah Nabi Musa AS. Intinya, bencana ditimpakan oleh Allah SWT karena pembangkangan yang dilakukan ketika diajak beriman dan mengikuti jalan lurus yang dibawa oleh setiap rasul pada setiap umatnya.
Mari kita simak kisah umat Nabi Nuh AS yang dihantam bencana banjir besar. Allah SWT menurunkan bencana banjir kepada umat Nabi Nuh karena mereka ingkar kepada Allah SWT walau Nabi Nuh tidak jemu-jemunya mengingatkan me­reka agar beriman dan patuh kepada Allah SWT Dalam surah Nuh, Allah SWT berfirman, Nuh berkata, ”Ya Tuhanku, se­sungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang. Maka seruanku itu ha­nyalah menambah mereka lari dari kebenaran. Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka kepada iman agar Engkau mengampuni mereka, me­reka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan baju­nya ke mukanya dan mereka tetap meng­ingkari dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka kepada iman de­ngan cara terang-terangan, kemudian se­sungguhnya aku menyeru mereka lagi de­ngan terang-terangan dan dengan diam-diam’.” – QS Nuh (71): 5-9.
Berbagai upaya yang dilakukan Nabi Nuh tidak bisa meluluhkan kekerasan hati umatnya. Sehingga akhirnya Allah SWT me­nurunkan adzab-Nya. Seperti yang di­firmankan oleh Allah SWT, ”Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke ne­raka, maka mereka tidak mendapatkan penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah.” – QS Nuh (71): 25.
Allah SWT memerintahkan agar Nabi Nuh dan pengikutnya membuat perahu yang sangat besar. Mereka yang beriman disuruh naik ke dalam perahu, sedangkan mereka yang ingkar mencemooh. Mereka menyangka bahwa Nabi  Nuh telah gila. Tidak ada pertanda alam apa-apa kok membuat perahu.
Kisah Nabi Nuh ini bisa juga kita baca dalam surah Al-A’raf , ”Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaum­nya lalu ia berkata, ’Wahai kaumku, sem­bahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain Dia. Sesungguhnya kalau kalian tidak menyembah Allah, aku takut kalian akan ditimpa adzab hari yang besar (Kiamat).
Pemuka-pemuka dari kaumnya ber­kata, ’Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata.’
Nuh menjawab, ’Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikit pun, melainkan aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasi­hat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kalian ketahui.
Dan apakah kalian tidak percaya dan heran bahwa datang kepada kalian pe­ringatan dari Tuhanmu dengan peran­tara­an seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu dan mudah-mudahan kalian bertaqwa dan supaya mendapat rahmat.’
Maka mereka mendustakan Nuh ke­mudian Kami selamatkan dia dari orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Se­sungguhnya mereka adalah kaum yang buta mata hatinya.” – QS Al-A’raf (7): 59-64.
Banyak kisah bencana dalam Al-Qur’an yang menimpa umat manusia ter­dahulu menjadi ibrah bagi umat manusia sekarang. Bencana yang datang, selain sebagai peringatan, juga bisa dipetik hikmahnya.

Hikmah Horizontal
Lalu bagaimana kita memaknai setiap bencana yang terjadi susul-menyusul, baik di dalam negeri maupun di negara lain. Dalam kasus gempa dan tsunami yang menimpa saudara-saudara kita di Jepang misalnya, apa yang bisa kita ambil sebagai pelajaran?
Kita bisa mengambil hikmah horizon­tal sebagai makhluk beradab yang mem­punyai akal dan kemampuan berpikir. Hik­mah itu bisa disebut hikmah horizon­tal, sebagai makhluk sesama ciptaan Tuhan dalam kerangka hubungan se­sama warga dunia.
Hasanudin Abdurakhman, seorang doktor tamatan Tokyo University, menulis dengan penuh empati ihwal hikmah di balik gempa dan tsunami yang menimpa Jepang.
Dunia terkesima dan kagum pada sikap orang Jepang menghadapi ben­cana besar saat ini. Tidak hanya pada pe­merintah dengan berbagai timnya yang sigap mengambil tindakan, tapi juga pada rakyat Jepang, yang tetap sabar, tak banyak mengeluh. Mereka tetap antre saat perbekalan dibagikan. Tidak ada penjarahan terhadap perbekalan, juga terhadap harta yang ditinggalkan oleh korban bencana.
Dunia semakin mengenal Jepang tak hanya sebagai bangsa yang maju secara teknologi dan ekonomi, tapi juga sebagai bangsa dengan budi yang sangat luhur.
”Saat masih belajar bahasa Jepang 15 tahun yang lalu, saya berdiskusi dengan seorang profesor ahli sejarah dari University of Tokyo. Saya bertanya, me­ngapa Jepang bisa bangkit dari kehan­curan Perang Dunia II, dan segera men­jadi kekuatan utama dunia.
Profesor itu menjawab, ’Karena ma­nusianya. Yang hancur oleh kekalahan perang itu hanyalah bangunan dan in­frastruktur lain. Manusianya tetap hidup’.”
Mengapa bangsa Jepang bisa seperti itu? Mengapa mereka bisa demikian istimewa? Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk kita cari jawabnya. Jawab­an itu mungkin bisa menuntun kita dalam membangun bangsa kita sendiri.
”Beberapa hari sebelum terjadi ben­cana, saya sempat berbincang dengan Prof. Sakurai, ahli sosiologi dari University of Tokyo. Dalam kesempatan itu saya mengungkapkan bahwa saya sedang menulis banyak hal tentang budaya Jepang. Di antara yang jadi perhatian saya adalah tata krama orang Jepang dalam berbisnis, misalnya dalam hal ba­gaimana mereka menepati janji, serta mementingkan pelayanan kepada kon­sumen.
Prof. Sakurai mengoreksi saya. Apa yang saya anggap sebagai budaya, menurut dia, bukanlah budaya. Budaya adalah sesuatu yang lahir dari alam dan lingkungan, sehingga terkait erat dengan dua hal itu. Misalnya pakaian, itu adalah produk budaya. Di daerah dingin orang akan memakai pakaian tebal. Pakaian itu hanya cocok untuk daerah dingin.
Tata krama bisnis, menurut Prof. Sakurai, bukan budaya, melainkan teknik. Dalam berbisnis, semua orang akan un­tung kalau bisnis dilakukan dengan jujur. Orang Jepang paham betul akan hal itu, dan mereka menguasai teknik untuk ber­laku jujur. Demikian pula halnya dengan teknik memuaskan konsumen. Karena hal itu adalah teknik, ia bisa dipelajari, dan dialihkan. Tidak hanya menjadi milik khas, seperti budaya.
Ahli budaya mungkin bisa mendebat pan­dangan tadi. Tapi saya tak hendak memperdebatkan soal itu. Tapi yang lebih penting adalah mendapat kepastian bah­wa perilaku orang Jepang itu bukan se­suatu yang secara eksklusif milik me­reka.”
Kalau kita bicara soal nilai, tak ada yang terlalu istimewa pada bangsa Jepang itu. Artinya, semua nilai yang mereka punya juga ada pada kita, dan seluruh bangsa lain di dunia. Soal ke­jujuran, misalnya, semua bangsa, semua budaya, dan semua agama menganjur­kannya. Hanya saja di masyarakat kita kejujuran hanya jadi ajaran di mimbar khutbah, ruang kelas, dan slogan-slogan. Kejujuran tidak hadir dalam amalan.
Sikap orang Jepang untuk antre saat menerima bantuan, misalnya, adalah se­buah sikap yang sangat wajar. Hanya dengan antrelah setiap orang dipastikan memperoleh bantuan. Kalau mereka ti­dak antre, ada kemungkinan mereka ti­dak kebagian, karena bantuan menjadi rusak akibat huru-hara, misalnya.
Apa yang kita lihat pada orang Jepang sebenarnya adalah hal-hal yang ber­sifat common sense belaka. Orang Je­pang menjadi istimewa karena common sense itu diamalkan menjadi praktek ke­seharian. Dalam bahasa agama, pelak­sanaan suatu nilai dalam praktek itu di­sebut beramal. Bangsa Jepang dengan demikian dapat kita sebut bangsa yang beramal.

Amanah
Faktor lain yang juga penting pada situasi bencana ini adalah kepercayaan. Para korban percaya bahwa mereka akan dibantu. Mereka percaya bahwa pemerin­tah sedang bekerja serius untuk menyele­saikan masalah. Dan yang paling penting, pemerintah tidak melakukan penyele­wengan dalam penyaluran bantuan.
Kepercayaan itulah sumber energi un­tuk kesabaran mereka. Mereka tahu bahwa bantuan akan dibagikan secara adil. Tidak ada pihak yang mendapat lebih, sedangkan yang lain mendapat kurang. Mereka juga percaya bahwa pengelolaan atas bantuan dilakukan de­ngan benar, sehingga tidak ada bantuan yang terbuang percuma karena tak ter­urus.
Semua itu juga tidak terjadi secara instan. Pemerintah, tak peduli partai apa pun yang berkuasa, telah menunjukkan kinerja positif dalam setiap kejadian ben­cana. Setiap kekurangan yang timbul dievaluasi untuk dilakukan perbaikan. Da­lam bahasa yang lebih normatif, bangsa Jepang, rakyat dan pemerintahnya, ada­lah bangsa yang amanah. Rakyat mem­percayai pemerintah, dan pemerintah mengelola amanah itu dengan baik.
Apa yang kita saksikan di Jepang saat ini adalah soal yang sederhana belaka. Masalahnya, mampukan kita berpegang teguh untuk mempraktekkan soal yang sederhana itu? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Pada rakyat dan pada pemerintah kita.

Tertib
Dunia berdecak kagum dengan men­talitas masyarakat Jepang. Di saat terjadi bencana gempa dan tsunami yang me­matikan, mereka tetap mengantre de­ngan tertib di supermarket untuk menda­patkan bahan makanan.
Tidak ada rebutan, tidak ada kerusuh­an. Rupanya tidak hanya di supermarket, suasana ketertiban di tengah bencana itu terlihat juga pada masyarakat Negeri Sakura. Ketika gempa baru saja terjadi, lalu lintas macet total. Namun, penduduk Jepang tetap bersikap tenang mengha­dapinya.
Lalu lintas di negeri ini bagai di ne­raka, sering kali hanya satu mobil yang dapat berjalan ketika lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Tapi di Jepang, semua begitu tenang dan mengemudi dengan aman dan memberikan jalan satu sama lain.
Masih di jalan raya, seorang peng­guna jalan mengatakan, ia mengemudi selama 10 jam untuk pulang ke rumah saat gempa menghentak pada Jum’at sore 11 Maret lalu. Lalu lintas sangat padat. Namun, ia tidak mendengar bunyi klakson sekali pun. “Yang terdengar hanyalah ucapan terima kasih antara satu sama lain, karena telah diberi jalan,” katanya.
Sikap tetap tertib dan tidak emosional juga terlihat di stasiun-staiun kereta api. Seperti diberitakan, ketiga gempa terjadi, jaringan KA Tokyo Metro sempat meng­hentikan operasinya dengan alasan ke­selamatan penumpang.
Banyak penumpang yang telantar di stasiun. Namun, mereka tetap menunggu dengan sabar sampai KA dapat berope­rasi kembali. Para penumpang juga se­nang dengan cara petugas KA yang tetap melayani mereka dengan senyuman.
Seorang warga Jepang yang ingin menempuh perjalanan dari Oedo menuju Hikari Gaoka mengatakan, stasiun sa­ngat penuh dengan penumpang. Sampai-sampai ada penumpang yang menunggu di luar gerbang tiket. Akan tetapi, semua tertib dan mengikuti arahan petugas stasiun.
“Kami membentuk garis sempurna. Tidak ada tali partisi. Tapi kami memberi­kan ruang untuk orang lain berjalan. Se­mua orang mengikuti petunjuk yang di­berikan oleh staf stasiun. Ketenangan ini sangat mutlak dan nyata. Saya kagum dengan kekuatan mental orang-orang ini,” ujar seorang warga.

Sadar akan Pengelolaan Risiko
Musibah gempa bumi 8,9 SR, yang lalu dikoreksi 9,0 SR, diiringi tsunami yang melanda Jepang, tidak lantas membuat warganya dilanda kepanikan dan per­gu­latan emosional yang berkepanjangan. Jepang sangatlah sadar akan rentannya negeri mereka, yang notabene pusat dari 20 persen gempa dunia dengan intensitas 6 SR setiap tahunnya, sehingga pendi­dikan akan bencana menjadi hal yang wajib untuk diajarkan oleh institusi publik, agar warganya terbiasa dengan bencana. Oleh karena itulah Jepang sadar akan pengelolaan risiko bencana dengan cara me­minimalisasi dampak sekunder dari ke­jadian bencana dalam bentuk mana­jemen bencana, dari fase mitigasi (miti­gation, peringanan) hingga rehabilitasi, yang dilakukan secara cermat.
Selain itu, dengan pengelolaan ma­najemen bencana berbasis risiko diharap­kan hasil modernisasi industri Jepang tidaklah runtuh, sebagaimana Jepang luluh lantah akibat bom atom Hiroshima dan Nagasaki. Kegiatan pengelolaan bencana yang terpadu merupakan kunci bagi negara itu untuk terus berpikir maju dalam pengembangan teknologi, khusus­nya dalam hal masalah kebencanaan.
Dalam melihat realitas itu, mana­jemen bencana yang terstruktur sangat­lah urgen dan signifikan dalam suatu ne­gara, mengingat dampak bencana yang begitu massif.
Adapun dalam kasus Indonesia, pe­merintah maupun masyarakat belum sa­dar konsep risiko bencana. Dalam benak mereka, bencana merupakan peristiwa tidak terduga, sehingga tidak memiliki pola siap siaga dalam menghadapi ben­cana.
Oleh karena itulah, ketika kita melihat pola penanggulangan bencana yang di­lakukan negara, sering kali negara masih kaget, tidak siap, dan hanya fokus pada aspek rehabilitasi maupun rekonstruksi. Padahal, bila melihat konsep teoretis ma­najemen bencana, aspek rehabilitasi dan rekonstruksi tersebut masuk ke dalam fase pasca-bencana, yang intinya me­rupa­kan fase lanjutan dari sekian rentetan manajemen bencana.

Mengubah Paradigma
Sejatinya esensi mendasar dari ma­najemen bencana sendiri adalah bagai­mana negara dan masyarakat siap dalam meng­hadapi bencana sebagai bahaya laten dan bagaimana cara memini­mali­sasi dampak bencana tersebut. Barang­kali paradigma manajemen bencana yang dibangun negara selama ini masih mengasumsikan bencana sebagai baha­ya, yakni akibat yang tidak bisa dikontrol, dan bukan melihat bencana sebagai ri­siko, yakni akibat yang bisa dikontrol. Se­ring kali pemerintah dan masyarakat se­lama ini bersikap pasrah, dan baru reaktif jika bencana sudah menapaki penurunan intensitas.
Mereka tidak sadar bahwa bencana me­miliki dampak sistemik terhadap ke­hidupan, seperti halnya infrastruktur mau­pun manufaktur yang rusak parah, yang mengakibatkan roda perekonomian, se­ba­gai mesin kebangkitan nasional, men­jadi lesu dan modernisasi pembangunan menjadi terhambat, sehingga terancam kembali ke peradaban awal.
Maka, paradigma manajemen berba­sis masyarakat risiko, seperti halnya di negara maju, dapat menjadi acuan dalam memodernisasi manajemen bencana ne­gara kita.
Kini manusia modern memasuki ba­bak baru dalam modernitas lanjut. Yaitu, formasi sosial yang terbentuk mengalami transformasi menuju formasi sosial masya­rakat risiko (Hasrul Hanif, 2007). Masyarakat risiko adalah masyarakat yang seluruh sendi kehidupannya diba­ngun di atas kesadaran akan risiko.
Tentu saja hal ini bukan berarti kehi­dupan mereka semuanya berisiko dan ti­dak hanya berpikir pendek tentang ben­cana. Akan tetapi, kesadaran akan risiko dan bagaimana merespons risiko ben­cana telah mempengaruhi seluruh proses sosial dalam masyarakat risiko.
Modernitas kemudian muncul dengan paradigma rasionalitas yang tinggi, peng­gugatan terhadap mitologi tradisional, dan hasrat penundukan bencana. Ben­cara sebagai sesuatu hal yang ada di luar diri manusia mesti ditundukkan. Oleh ka­rena itulah, modernisasi teknologi infra­struktur yang ada adalah untuk memas­tikan bahwa bencana tidak memberikan kerentanan terhadap kejadian di masa depan.
Esensi modernitas dalam manajemen bencana adalah mengajak semua orang untuk berpikir futuristis terhadap bencana yang terjadi sekarang ini, apakah memiliki dampak lebih dahsyat di masa depan. Untuk itulah peningkatan kapasitas ma­syarakat dan negara sebagai kesatuan aktor dalam manajemen bencana melalui pendidikan kebencanaan sedini mungkin, pelatihan simulasi, dan tanggap darurat bencana, maupun investasi besar dalam sistem peringatan dini maupun infra­struk­tur pendukung, merupakan sesuatu yang tak  terelakkan, agar bencana ini tidak memberi efek lanjutan pada kehidupan, baik yang terjadi sekarang maupun di masa depan.
Dalam kasus Indonesia, pada peme­rintah maupun masyarakat belum terlihat aplikasi modernitas dalam manajemen ben­cana yang ada. Sebagai contoh, da­lam kurun waktu empat tahun terakhir se­menjak diundangkannya UU No. 24 Tahun 2007, investasi teknologi dalam infrastruktur bencana dapat dikatakan sangatlah minim, tanpa dukungan ang­gar­an memadai, hanya 0,5 persen dari porsi APBN/APBD. Kecilnya anggaran ter­sebut tidak mencerminkan bahwa ne­gara waspada akan bencana di masa mendatang dan hanya berpikir pragmatis terhadap kejadian bencana yang terjadi selama ini.
Selain itu, masyarakat juga masih mempunyai sikap hanya siap siaga jika ben­cana itu benar-benar datang dalam ke­hidupan mereka. Masyarakat masih terbalut tradisionalisme yang mengasum­sikan bahwa manusia adalah subordinat alam.
Kita juga perlu berpikir rasional bahwa tidak selamanya bencana itu merupakan ke­tidakpatuhan manusia atas hukum alam, namun alam mengajarkan kepada manusia bahwa alam semesta senan­tiasa bergerak dinamis menuju titik ke­seimbangan sebagaimana yang diajar­kan dalam ilmu pasti. Bencana dapat di­lihat sebagai peringatan dini bagi manusia untuk bersama dengan alam menuju titik ke­seimbangan tersebut.
Negara perlu melihat bahwa bencana merupakan sesuatu yang tak terelakkan dalam kehidupan kita. Cara berpikir mo­dern perlu diterapkan dalam manajemen bencana, sehingga tak perlu risau dalam melihat bencana sebagai sesuatu yang ne­gatif. Bencana adalah sesuatu yang harus dihadapi dalam modernisasi zaman.
Begitulah alam semesta dengan se­genap perilakunya, yang tentu tidak ter­lepas dari aturan Sang Sutradara Agung, Allah SWT. Tugas manusia adalah  meng­­gali hikmah di balik setiap pe­ristiwa, kejadian, bencana, dan musibah yang ter­jadi, sambil terus-menerus memperbaiki diri agar selaras dengan jalan lurus-Nya.

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking