”Tidak
ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin
Allah, dan barang siapa beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi
petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” – QS
At-Taghabun (64): 11.
Suatu waktu langit kota Madinah yang cerah tiba-tiba berubah menjadi gelap, angin bertiup kencang.
Penduduk bertanya-tanya, gerangan apa yang akan terjadi.
Sekonyong-konyong bumi bergetar, beberapa pohon bertumbangan.
Khalifah Umar bin Khaththab, yang melihat kejadian itu, dengan cepat
keluar dari kediamannya. Demikian juga beberapa sahabatnya yang lain.
Sesampai di jalan ia menancapkan tongkat dan berkata dengan suara
yang menggelegar, ”Wahai bumi, engkau saksikanlah, apakah aku
pemimpin yang tidak adil?”
Ajaib... tiba-tiba alam berubah cerah dan gempa bumi tersebut tidak lagi berlanjut.
Tentu kita tidak menyangsikan keshalihan dan ketaqwaan Khalifah
Umar. Dia menegur bumi yang akan mencederai rakyatnya, dan Allah SWT
mengabulkan keinginan Khalifah Umar, sehingga bencana gempa bumi tidak
berlanjut. Doa seorang yang sangat dikasihi dan dicintai Allah tentu
berbeda dengan doa kita sebagai manusia awam.
Apa pun kejadian yang menimpa alam semesta, termasuk manusia,
sebagai ciptaan Allah SWT, tentu tidak terlepas dari izin Allah SWT.
Berbagai teori ilmu pengetahuan hanya mampu menganalisis secara tekhnis
bencana yang bakal terjadi, tapi tidak bisa memastikan kapan
terjadinya. Itulah yang kita saksikan dari bencana-bencana yang terjadi
di dunia ini, mulai dari gempa bumi, tsunami, angin topan, meletusnya
gunung berapi, banjir bandang, hingga yang lainnya.
Ilmu pengetahuan telah memberikan sinyal bahwa suatu daerah merupakan
daerah yang potensial bencana. Misalnya patahan beberapa lempeng yang
nantinya akan menjadi daerah rawan gempa. Begitu juga daerah rawan
tsunami, daerah rawan meletusnya gunung berapi. Tugas manusia adalah
waspada dan menjauhi daerah tersebut agar korban bisa diminimalisir,
bahkan kalau bisa sampai pada tingkat nol.
Sunatullah di dunia fana ini tentu tidak bisa menihilkan bencana dan
musibah, karena memang begitulah aturan yang ditentukan oleh Allah SWT.
Tapi di balik itu tentu tugas manusia untuk berusaha semaksimal mungkin
menghindar. Setelah itu manusia juga bisa belajar dari apa yang sudah
terjadi, mengambil ibrah, menggali hikmah. Karena di balik setiap
musibah, insya Allah banyak hikmah yang bisa didapat.
Gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Jepang misalnya menjadi
pelajaran dunia bagaimana perilaku masyarakat Jepang menghadapi alam
negaranya yang memang rentan bencana. Hal itu bisa kita bandingkan
dengan perilaku masyarakat Indonesia yang juga sering tertimpa bencana.
Yang terakhir adalah gempa bumi dan tsunami di Mentawai lalu diikuti
dengan meletusnya Gunung Merapi di Yogyakarta. Hikmah apa yang bisa
dipetik?
Peringatan Allah SWT
Hal pertama yang harus kita yakini sebagai orang beriman, setiap
kejadian, apa pun, tidak terlepas dari izin Allah SWT. Kalau kita berkca
pada kisah-kisah terdahulu ketika Nabi dan Rasul masih hidup di
tengah-tengah umatnya, sering terjadi bencana ditimpakan kepada suatu
kaum karena ingkarnya mereka akan dakwah yang dilakukan oleh para nabi
dan rasul yang hidup di tengah mereka.
Hal ini bisa kita lacak dari riwayat bencana yang menimpa umat Nabi
Nuh AS, lalu kejadian yang menimpa umat Nabi Hud AS, umat Nabi Luth AS,
kisah Nabi Syu’aib AS, kisah Nabi Musa AS. Intinya, bencana ditimpakan
oleh Allah SWT karena pembangkangan yang dilakukan ketika diajak beriman
dan mengikuti jalan lurus yang dibawa oleh setiap rasul pada setiap
umatnya.
Mari kita simak kisah umat Nabi Nuh AS yang dihantam bencana banjir
besar. Allah SWT menurunkan bencana banjir kepada umat Nabi Nuh karena
mereka ingkar kepada Allah SWT walau Nabi Nuh tidak jemu-jemunya
mengingatkan mereka agar beriman dan patuh kepada Allah SWT Dalam surah
Nuh, Allah SWT berfirman, Nuh berkata, ”Ya Tuhanku, sesungguhnya aku
telah menyeru kaumku malam dan siang. Maka seruanku itu hanyalah
menambah mereka lari dari kebenaran. Dan sesungguhnya setiap kali aku
menyeru mereka kepada iman agar Engkau mengampuni mereka, mereka
memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya
ke mukanya dan mereka tetap mengingkari dan menyombongkan diri dengan
sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka kepada iman
dengan cara terang-terangan, kemudian sesungguhnya aku menyeru mereka
lagi dengan terang-terangan dan dengan diam-diam’.” – QS Nuh (71): 5-9.
Berbagai upaya yang dilakukan Nabi Nuh tidak bisa meluluhkan
kekerasan hati umatnya. Sehingga akhirnya Allah SWT menurunkan
adzab-Nya. Seperti yang difirmankan oleh Allah SWT, ”Disebabkan
kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke
neraka, maka mereka tidak mendapatkan penolong-penolong bagi mereka
selain dari Allah.” – QS Nuh (71): 25.
Allah SWT memerintahkan agar Nabi Nuh dan pengikutnya membuat perahu
yang sangat besar. Mereka yang beriman disuruh naik ke dalam perahu,
sedangkan mereka yang ingkar mencemooh. Mereka menyangka bahwa Nabi Nuh
telah gila. Tidak ada pertanda alam apa-apa kok membuat perahu.
Kisah Nabi Nuh ini bisa juga kita baca dalam surah Al-A’raf ,
”Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata,
’Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain
Dia. Sesungguhnya kalau kalian tidak menyembah Allah, aku takut kalian
akan ditimpa adzab hari yang besar (Kiamat).
Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata, ’Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata.’
Nuh menjawab, ’Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikit pun,
melainkan aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Aku sampaikan
kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasihat kepadamu, dan
aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kalian ketahui.
Dan apakah kalian tidak percaya dan heran bahwa datang kepada kalian
peringatan dari Tuhanmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari
golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu dan mudah-mudahan kalian
bertaqwa dan supaya mendapat rahmat.’
Maka mereka mendustakan Nuh kemudian Kami selamatkan dia dari
orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera dan Kami tenggelamkan
orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah
kaum yang buta mata hatinya.” – QS Al-A’raf (7): 59-64.
Banyak kisah bencana dalam Al-Qur’an yang menimpa umat manusia
terdahulu menjadi ibrah bagi umat manusia sekarang. Bencana yang
datang, selain sebagai peringatan, juga bisa dipetik hikmahnya.
Hikmah Horizontal
Lalu bagaimana kita memaknai setiap bencana yang terjadi
susul-menyusul, baik di dalam negeri maupun di negara lain. Dalam kasus
gempa dan tsunami yang menimpa saudara-saudara kita di Jepang misalnya,
apa yang bisa kita ambil sebagai pelajaran?
Kita bisa mengambil hikmah horizontal sebagai makhluk beradab yang
mempunyai akal dan kemampuan berpikir. Hikmah itu bisa disebut hikmah
horizontal, sebagai makhluk sesama ciptaan Tuhan dalam kerangka
hubungan sesama warga dunia.
Hasanudin Abdurakhman, seorang doktor tamatan Tokyo University,
menulis dengan penuh empati ihwal hikmah di balik gempa dan tsunami yang
menimpa Jepang.
Dunia terkesima dan kagum pada sikap orang Jepang menghadapi bencana
besar saat ini. Tidak hanya pada pemerintah dengan berbagai timnya
yang sigap mengambil tindakan, tapi juga pada rakyat Jepang, yang tetap
sabar, tak banyak mengeluh. Mereka tetap antre saat perbekalan
dibagikan. Tidak ada penjarahan terhadap perbekalan, juga terhadap harta
yang ditinggalkan oleh korban bencana.
Dunia semakin mengenal Jepang tak hanya sebagai bangsa yang maju
secara teknologi dan ekonomi, tapi juga sebagai bangsa dengan budi yang
sangat luhur.
”Saat masih belajar bahasa Jepang 15 tahun yang lalu, saya berdiskusi
dengan seorang profesor ahli sejarah dari University of Tokyo. Saya
bertanya, mengapa Jepang bisa bangkit dari kehancuran Perang Dunia II,
dan segera menjadi kekuatan utama dunia.
Profesor itu menjawab, ’Karena manusianya. Yang hancur oleh
kekalahan perang itu hanyalah bangunan dan infrastruktur lain.
Manusianya tetap hidup’.”
Mengapa bangsa Jepang bisa seperti itu? Mengapa mereka bisa demikian
istimewa? Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk kita cari jawabnya.
Jawaban itu mungkin bisa menuntun kita dalam membangun bangsa kita
sendiri.
”Beberapa hari sebelum terjadi bencana, saya sempat berbincang
dengan Prof. Sakurai, ahli sosiologi dari University of Tokyo. Dalam
kesempatan itu saya mengungkapkan bahwa saya sedang menulis banyak hal
tentang budaya Jepang. Di antara yang jadi perhatian saya adalah tata
krama orang Jepang dalam berbisnis, misalnya dalam hal bagaimana mereka
menepati janji, serta mementingkan pelayanan kepada konsumen.
Prof. Sakurai mengoreksi saya. Apa yang saya anggap sebagai budaya,
menurut dia, bukanlah budaya. Budaya adalah sesuatu yang lahir dari alam
dan lingkungan, sehingga terkait erat dengan dua hal itu. Misalnya
pakaian, itu adalah produk budaya. Di daerah dingin orang akan memakai
pakaian tebal. Pakaian itu hanya cocok untuk daerah dingin.
Tata krama bisnis, menurut Prof. Sakurai, bukan budaya, melainkan
teknik. Dalam berbisnis, semua orang akan untung kalau bisnis dilakukan
dengan jujur. Orang Jepang paham betul akan hal itu, dan mereka
menguasai teknik untuk berlaku jujur. Demikian pula halnya dengan
teknik memuaskan konsumen. Karena hal itu adalah teknik, ia bisa
dipelajari, dan dialihkan. Tidak hanya menjadi milik khas, seperti
budaya.
Ahli budaya mungkin bisa mendebat pandangan tadi. Tapi saya tak
hendak memperdebatkan soal itu. Tapi yang lebih penting adalah mendapat
kepastian bahwa perilaku orang Jepang itu bukan sesuatu yang secara
eksklusif milik mereka.”
Kalau kita bicara soal nilai, tak ada yang terlalu istimewa pada
bangsa Jepang itu. Artinya, semua nilai yang mereka punya juga ada pada
kita, dan seluruh bangsa lain di dunia. Soal kejujuran, misalnya, semua
bangsa, semua budaya, dan semua agama menganjurkannya. Hanya saja di
masyarakat kita kejujuran hanya jadi ajaran di mimbar khutbah, ruang
kelas, dan slogan-slogan. Kejujuran tidak hadir dalam amalan.
Sikap orang Jepang untuk antre saat menerima bantuan, misalnya,
adalah sebuah sikap yang sangat wajar. Hanya dengan antrelah setiap
orang dipastikan memperoleh bantuan. Kalau mereka tidak antre, ada
kemungkinan mereka tidak kebagian, karena bantuan menjadi rusak akibat
huru-hara, misalnya.
Apa yang kita lihat pada orang Jepang sebenarnya adalah hal-hal yang bersifat common sense belaka. Orang Jepang menjadi istimewa karena common sense itu diamalkan menjadi praktek keseharian. Dalam bahasa agama, pelaksanaan suatu nilai dalam praktek itu disebut beramal. Bangsa Jepang dengan demikian dapat kita sebut bangsa yang beramal.
Amanah
Faktor lain yang juga penting pada situasi bencana ini adalah
kepercayaan. Para korban percaya bahwa mereka akan dibantu. Mereka
percaya bahwa pemerintah sedang bekerja serius untuk menyelesaikan
masalah. Dan yang paling penting, pemerintah tidak melakukan
penyelewengan dalam penyaluran bantuan.
Kepercayaan itulah sumber energi untuk kesabaran mereka. Mereka tahu
bahwa bantuan akan dibagikan secara adil. Tidak ada pihak yang mendapat
lebih, sedangkan yang lain mendapat kurang. Mereka juga percaya bahwa
pengelolaan atas bantuan dilakukan dengan benar, sehingga tidak ada
bantuan yang terbuang percuma karena tak terurus.
Semua itu juga tidak terjadi secara instan. Pemerintah, tak peduli
partai apa pun yang berkuasa, telah menunjukkan kinerja positif dalam
setiap kejadian bencana. Setiap kekurangan yang timbul dievaluasi untuk
dilakukan perbaikan. Dalam bahasa yang lebih normatif, bangsa Jepang,
rakyat dan pemerintahnya, adalah bangsa yang amanah. Rakyat
mempercayai pemerintah, dan pemerintah mengelola amanah itu dengan
baik.
Apa yang kita saksikan di Jepang saat ini adalah soal yang sederhana
belaka. Masalahnya, mampukan kita berpegang teguh untuk mempraktekkan
soal yang sederhana itu? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing.
Pada rakyat dan pada pemerintah kita.
Tertib
Dunia berdecak kagum dengan mentalitas masyarakat Jepang. Di saat
terjadi bencana gempa dan tsunami yang mematikan, mereka tetap
mengantre dengan tertib di supermarket untuk mendapatkan bahan
makanan.
Tidak ada rebutan, tidak ada kerusuhan. Rupanya tidak hanya di
supermarket, suasana ketertiban di tengah bencana itu terlihat juga pada
masyarakat Negeri Sakura. Ketika gempa baru saja terjadi, lalu lintas
macet total. Namun, penduduk Jepang tetap bersikap tenang
menghadapinya.
Lalu lintas di negeri ini bagai di neraka, sering kali hanya satu
mobil yang dapat berjalan ketika lampu lalu lintas berubah menjadi
hijau. Tapi di Jepang, semua begitu tenang dan mengemudi dengan aman dan
memberikan jalan satu sama lain.
Masih di jalan raya, seorang pengguna jalan mengatakan, ia mengemudi
selama 10 jam untuk pulang ke rumah saat gempa menghentak pada Jum’at
sore 11 Maret lalu. Lalu lintas sangat padat. Namun, ia tidak mendengar
bunyi klakson sekali pun. “Yang terdengar hanyalah ucapan terima kasih
antara satu sama lain, karena telah diberi jalan,” katanya.
Sikap tetap tertib dan tidak emosional juga terlihat di
stasiun-staiun kereta api. Seperti diberitakan, ketiga gempa terjadi,
jaringan KA Tokyo Metro sempat menghentikan operasinya dengan alasan
keselamatan penumpang.
Banyak penumpang yang telantar di stasiun. Namun, mereka tetap
menunggu dengan sabar sampai KA dapat beroperasi kembali. Para
penumpang juga senang dengan cara petugas KA yang tetap melayani mereka
dengan senyuman.
Seorang warga Jepang yang ingin menempuh perjalanan dari Oedo menuju
Hikari Gaoka mengatakan, stasiun sangat penuh dengan penumpang.
Sampai-sampai ada penumpang yang menunggu di luar gerbang tiket. Akan
tetapi, semua tertib dan mengikuti arahan petugas stasiun.
“Kami membentuk garis sempurna. Tidak ada tali partisi. Tapi kami
memberikan ruang untuk orang lain berjalan. Semua orang mengikuti
petunjuk yang diberikan oleh staf stasiun. Ketenangan ini sangat mutlak
dan nyata. Saya kagum dengan kekuatan mental orang-orang ini,” ujar
seorang warga.
Sadar akan Pengelolaan Risiko
Musibah gempa bumi 8,9 SR, yang lalu dikoreksi 9,0 SR, diiringi
tsunami yang melanda Jepang, tidak lantas membuat warganya dilanda
kepanikan dan pergulatan emosional yang berkepanjangan. Jepang
sangatlah sadar akan rentannya negeri mereka, yang notabene pusat dari
20 persen gempa dunia dengan intensitas 6 SR setiap tahunnya, sehingga
pendidikan akan bencana menjadi hal yang wajib untuk diajarkan oleh
institusi publik, agar warganya terbiasa dengan bencana. Oleh karena
itulah Jepang sadar akan pengelolaan risiko bencana dengan cara
meminimalisasi dampak sekunder dari kejadian bencana dalam bentuk
manajemen bencana, dari fase mitigasi (mitigation, peringanan) hingga rehabilitasi, yang dilakukan secara cermat.
Selain itu, dengan pengelolaan manajemen bencana berbasis risiko
diharapkan hasil modernisasi industri Jepang tidaklah runtuh,
sebagaimana Jepang luluh lantah akibat bom atom Hiroshima dan Nagasaki.
Kegiatan pengelolaan bencana yang terpadu merupakan kunci bagi negara
itu untuk terus berpikir maju dalam pengembangan teknologi, khususnya
dalam hal masalah kebencanaan.
Dalam melihat realitas itu, manajemen bencana yang terstruktur
sangatlah urgen dan signifikan dalam suatu negara, mengingat dampak
bencana yang begitu massif.
Adapun dalam kasus Indonesia, pemerintah maupun masyarakat belum
sadar konsep risiko bencana. Dalam benak mereka, bencana merupakan
peristiwa tidak terduga, sehingga tidak memiliki pola siap siaga dalam
menghadapi bencana.
Oleh karena itulah, ketika kita melihat pola penanggulangan bencana
yang dilakukan negara, sering kali negara masih kaget, tidak siap, dan
hanya fokus pada aspek rehabilitasi maupun rekonstruksi. Padahal, bila
melihat konsep teoretis manajemen bencana, aspek rehabilitasi dan
rekonstruksi tersebut masuk ke dalam fase pasca-bencana, yang intinya
merupakan fase lanjutan dari sekian rentetan manajemen bencana.
Mengubah Paradigma
Sejatinya esensi mendasar dari manajemen bencana sendiri adalah
bagaimana negara dan masyarakat siap dalam menghadapi bencana sebagai
bahaya laten dan bagaimana cara meminimalisasi dampak bencana
tersebut. Barangkali paradigma manajemen bencana yang dibangun negara
selama ini masih mengasumsikan bencana sebagai bahaya, yakni akibat
yang tidak bisa dikontrol, dan bukan melihat bencana sebagai risiko,
yakni akibat yang bisa dikontrol. Sering kali pemerintah dan masyarakat
selama ini bersikap pasrah, dan baru reaktif jika bencana sudah
menapaki penurunan intensitas.
Mereka tidak sadar bahwa bencana memiliki dampak sistemik terhadap
kehidupan, seperti halnya infrastruktur maupun manufaktur yang rusak
parah, yang mengakibatkan roda perekonomian, sebagai mesin kebangkitan
nasional, menjadi lesu dan modernisasi pembangunan menjadi terhambat,
sehingga terancam kembali ke peradaban awal.
Maka, paradigma manajemen berbasis masyarakat risiko, seperti halnya
di negara maju, dapat menjadi acuan dalam memodernisasi manajemen
bencana negara kita.
Kini manusia modern memasuki babak baru dalam modernitas lanjut.
Yaitu, formasi sosial yang terbentuk mengalami transformasi menuju
formasi sosial masyarakat risiko (Hasrul Hanif, 2007). Masyarakat
risiko adalah masyarakat yang seluruh sendi kehidupannya dibangun di
atas kesadaran akan risiko.
Tentu saja hal ini bukan berarti kehidupan mereka semuanya berisiko
dan tidak hanya berpikir pendek tentang bencana. Akan tetapi,
kesadaran akan risiko dan bagaimana merespons risiko bencana telah
mempengaruhi seluruh proses sosial dalam masyarakat risiko.
Modernitas kemudian muncul dengan paradigma rasionalitas yang tinggi,
penggugatan terhadap mitologi tradisional, dan hasrat penundukan
bencana. Bencara sebagai sesuatu hal yang ada di luar diri manusia
mesti ditundukkan. Oleh karena itulah, modernisasi teknologi
infrastruktur yang ada adalah untuk memastikan bahwa bencana tidak
memberikan kerentanan terhadap kejadian di masa depan.
Esensi modernitas dalam manajemen bencana adalah mengajak semua orang
untuk berpikir futuristis terhadap bencana yang terjadi sekarang ini,
apakah memiliki dampak lebih dahsyat di masa depan. Untuk itulah
peningkatan kapasitas masyarakat dan negara sebagai kesatuan aktor
dalam manajemen bencana melalui pendidikan kebencanaan sedini mungkin,
pelatihan simulasi, dan tanggap darurat bencana, maupun investasi besar
dalam sistem peringatan dini maupun infrastruktur pendukung, merupakan
sesuatu yang tak terelakkan, agar bencana ini tidak memberi efek
lanjutan pada kehidupan, baik yang terjadi sekarang maupun di masa
depan.
Dalam kasus Indonesia, pada pemerintah maupun masyarakat belum
terlihat aplikasi modernitas dalam manajemen bencana yang ada. Sebagai
contoh, dalam kurun waktu empat tahun terakhir semenjak diundangkannya
UU No. 24 Tahun 2007, investasi teknologi dalam infrastruktur bencana
dapat dikatakan sangatlah minim, tanpa dukungan anggaran memadai,
hanya 0,5 persen dari porsi APBN/APBD. Kecilnya anggaran tersebut tidak
mencerminkan bahwa negara waspada akan bencana di masa mendatang dan
hanya berpikir pragmatis terhadap kejadian bencana yang terjadi selama
ini.
Selain itu, masyarakat juga masih mempunyai sikap hanya siap siaga
jika bencana itu benar-benar datang dalam kehidupan mereka. Masyarakat
masih terbalut tradisionalisme yang mengasumsikan bahwa manusia adalah
subordinat alam.
Kita juga perlu berpikir rasional bahwa tidak selamanya bencana itu
merupakan ketidakpatuhan manusia atas hukum alam, namun alam
mengajarkan kepada manusia bahwa alam semesta senantiasa bergerak
dinamis menuju titik keseimbangan sebagaimana yang diajarkan dalam
ilmu pasti. Bencana dapat dilihat sebagai peringatan dini bagi manusia
untuk bersama dengan alam menuju titik keseimbangan tersebut.
Negara perlu melihat bahwa bencana merupakan sesuatu yang tak
terelakkan dalam kehidupan kita. Cara berpikir modern perlu diterapkan
dalam manajemen bencana, sehingga tak perlu risau dalam melihat bencana
sebagai sesuatu yang negatif. Bencana adalah sesuatu yang harus
dihadapi dalam modernisasi zaman.
Begitulah alam semesta dengan segenap perilakunya, yang tentu tidak
terlepas dari aturan Sang Sutradara Agung, Allah SWT. Tugas manusia
adalah menggali hikmah di balik setiap peristiwa, kejadian, bencana,
dan musibah yang terjadi, sambil terus-menerus memperbaiki diri agar
selaras dengan jalan lurus-Nya. |
Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking